Latest Entries »

“Wahai sekalian manusia, kalian telah sepakat memilihku sebagai khalifah untuk memimpinmu. Aku ini bukanlah yang terbaik di antara kamu, maka bila aku berlaku baik dalam melaksanakan tugasku, bantulah aku, tetapi bila aku bertindak salah, betulkanlah. Berlaku jujur adalah amanah, berlaku bohong adalah khianat. Siapa saja yang lemah di antaramu akan kuat bagiku sampai aku dapat mengembalikan hak-haknya, insya Allah. Siapa saja yang kuat di antaramu akan lemah berhadapan denganku sampai aku kembalikan hak orang lain yang dipegangnya, insya Allah. Taatlah kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Apabila aku tidak taat lagi kepada Allah dan Rasul-Nya, maka tidak ada kewajibanmu untuk taat kepadaku.”  (Abu Bakar r.a.)

Pemimpin hanyalah sebuah sebutan bagi seorang individu yang dipercaya oleh seluruh sumber daya manusia yang terdapat pada perkumpulan itu untuk berkuasa baik dalam sebuah organisasi, perusahaan, atau sebuah negara. Dibalik kekuasaannya ada dua hal pokok dan sangat mempengaruhi sifat dan mekanisme kepemimpinannya. Siapa yang memimpin dan siapa yang dipimpin adalah simulasi kehidupan. Sedangkan kepemimpinan dapat diartikan sebagai proses mempengaruhi dan mengarahkan para bawahan dalam melakukan pekerjaan yang telah ditugaskan kepada mereka. Disamping itu, Ada beberapa tokoh yang mendefinisikan kepemimpinan. Salah satunya adalah tannenbaum yang mendefinisikan Kepemimpinan sebagai  pengaruh antar pribadi yang dijalankan dalam suatu situasi tertentu, serta diarahkan melalui proses komunikasi, kearah pencapaian satu atau beberapa tujuan tertentu(1).

Redefinisi kepemimpinan biasanya akan terjadi bila melihat perkembangan jaman walau mungkin ada beberapa orang mengatakan , meski jaman berubah, kepemimpinan secara garis besar pada dasarnya adalah sama. Dengan sebuah proses strukturisasi modern, posisi kepemimpinan kemudian berkembang dalam uraian jabatan struktural seperti general manager, direktur, komisaris, presiden direktur, kepala yayasan, kepala sekolah, dan banyak lagi area jabatan dalam area kehidupan dalam bentuk apapun itu. Satu hal yang harus kita pahami bahwa kepemimpinan bukanlah melulu melihat pada peran atau jabatan, dan demikian pula sebaliknya. Kepemimpinan itu secara riil bersifat intangible (tidak terwujud) bila dihadapkan pada jabatan, posisi, ataupun struktur, walau kepemimpinan itu dapat dirasakan, diketahui, dibentuk, dan dimaksimalkan. Kepemimpinan tidak lahir begitu saja, tidak dapat diciptakan atau dipromosikan, tidak dapat diajarkan atau dipaksakan melainkan kepemimpinan dicapai dengan sebuah proses, pelatihan disiplin, pembentukan karakter, pendalaman attitude dengan konsisten dan konsekuen dalam hasil akhirnya (2).

Seorang pemimpin yang revolusioner dan imajiner pada dasarnya adalah pemimpin-pemimpin yang inspiratif dalam berbagai hal. Tidak hanya keputusannya, tapi tindakan dan etikanya pun haruslah bisa menjadi contoh kepada bawahannya. Para pembisnis professional Amerika tidak inspiratif. Terkejut? Tidak perlu. Faktanya adalah, hanya 10% dari karyawan-karyawan yang berharap keluar kerja dan alasan yang utama adalah kurangnya kepemimpinan. Berdasarkan penelitian terakhir Maritz. .Sesungguhnya tidak perlu seperti itu. Seluruh pemimpin-pemimpin bisnis memiliki kekuatan untuk menginspirasi, memotivasi dan mempengaruhi secara positif orang-orang di kehidupan professional mereka,. sesuai dengan berita terakhir di BusinessWeek Online (3).

Dalam dunia Islam, kita ketahui bahwa pemimpin yang layak kita jadikan contoh dan teladan adalah nabi Muhammad saw, yang mana berada dalam urutan pertama daftar Seratus Tokoh yang berpengaruh di dunia. Mungkin mengejutkan pembaca dan jadi tanda tanya sebagian yang lain. Tapi saya berpegang pada keyakinan saya, dialah Nabi Muhammad satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses-sukses luar biasa baik ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi. Berasal-usul dari keluarga sederhana, Muhammad menegakkan dan menyebarkan salah satu dari agama terbesar di dunia, Agama Islam. Dan pada saat yang bersamaan tampil sebagai seorang pemimpin tangguh, tulen, dan efektif. Kini tiga belas abad sesudah wafatnya, pengaruhnya masih tetap kuat dan mendalam serta berakar (4).

Di negara kita sendiri, kita ketahui bahwa pemimpin yang paling inspiratif. Dari era penjajahan sampai pada era modern saat ini adalah sosok seorang Ir.Soekarno. Figur yang kuat dari seorang soekarno seakan-akan menjadi sebuah tolak ukur kesuksesan kepemimpinan dari seorang presiden negara Indonesia dari waktu ke waktu sampai sekarang. Seorang yang berprinsip  pada sikap nasionalis, agamis, dan komunis, Visi dan tekadnya yang kuat untuk memerdekakan bangsa dari para penjajah menjadikannya seorang pemimpin yang paling dirindu-rindukan oleh seluruh masyarakat Indonesia. Seorang pemimpin seperti Soekarno adalah personal yang mumpuni, aktif, dan bertanggung jawab.

 

Setiap kita memiliki kapasitas untuk menjadi pemimpin. Seorang pemimpin yang efektif dan inspiratif haruslah memiliki kecerdasan (baik Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan Emosional, maupun Kecerdasan Spiritual),  Quality (baik dari aspek visioner maupun aspek manajerial), Dan juga Makna seperti yang dipopulerkan oleh KH Abdullah Gymnastiar sebagai qolbu atau inner self. Seorang pemimpin sejati adalah seseorang yang sungguh-sungguh mengenali dirinya (qolbu-nya) dan dapat mengelola dan mengendalikannya (self management atau qolbu management).  Menjadi seorang pemimpin berarti menjadi seorang yang selalu belajar dan tumbuh senantiasa untuk mencapai tingkat atau kadar kecerdasan,  quality , dan qolbu yang lebih tinggi dalam upaya pencapaian misi dan tujuan organisasi maupun pencapaian makna kehidupan setiap pribadi seorang pemimpin.

 

Seorang pemimpin haruslah  memiliki aspek-aspek penting seperti dibawah ini, yaitu:

  1. Perubahan karakter dari dalam diri (character change)
  2. Visi yang jelas (clear vision)
  3. Kemampuan atau kompetensi yang tinggi (competence)

Ketiga hal tersebut dilandasi oleh suatu sikap disiplin yang tinggi untuk senantiasa bertumbuh, belajar dan berkembang baik secara internal (pengembangan kemampuan intrapersonal, kemampuan teknis, pengetahuan, dll) maupun dalam hubungannya dengan orang lain (pengembangan kemampuan interpersonal dan metoda kepemimpinan).  Seperti yang dikatakan oleh John Maxwell: The only way that I can keep leading is to keep growing. The day I stop growing, somebody else takes the leadership baton. That is the way it always it.” Satu-satunya cara agar saya tetap menjadi pemimpin adalah saya harus senantiasa bertumbuh. Ketika saya berhenti bertumbuh, orang lain akan mengambil alih kepemimpinan tersebut.

Refferences

(1) (Tannenbaum, Weschler, & Massarik, 1961:24)

(2) (http://www.solusibijak.com/)

(3) (http://EzineArticles.com/?expert=Les_Gore)

(4) (Michael H. Hart, 1978, “Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah”, Jakarta Pusat, PT. Dunia Pustaka Jaya.)

Mahasiswa, bukan hanya sekedar nama, Bukan juga hanya embel-embel semata. Namun, dibawah pundak Mahasiswa lah semua keluh kesah ini tertuju.

Negeri ini butuh engau kawan! Negeri ini butuh keringat-keringat dan pemikiran-pemikiranmu! Lawan Tirani! Bebaskan Otakmu! Berfikir Merdeka! Allohu ‘Akbar!

Sungguh naif ketika kita mau disebut mahasiswa yang banyak digembar-gemborkan sebagai kaum intelektual akan tetapi miskin akan pengetahuan, berfikir pragmatis, hanya berorientasi pada kampus, dan pencari pekerjaan. Ketika kita berbicara mengenai mahasiswa, tidakkah kita masi mengingat tiga fungsi dan peran seorang mahasiswa (Agent Of Change, Social control, Iron Stock) dan bahkan saat ini ditambahkan lagi (Moral Force) sebagai hasil dari kompleksnya permasalahan di negeri yang mendewa-dewakan demokrasi ini. Kawan-kawan, tidakkah kau memikirkan orang-orang yang ada disekitarmu. Orang-orang yang rela berangkat pagi-pagi buta berjualan dipasar, orang-orang yang rela tiap hari tubuhnya digunakan untuk mengais tumpukan sampah yang berserakan, para kuli batu, para pengemis dan pengamen yang sering kalian temui diperempatan jalan, orang-orang yang rela menjual tubuhnya ke para lelaki hidung belang. Tahukah kalian bahwa mereka semua hanya untuk mencari sesuap nasi! Tak peduli keselamatan jiwa, lusuh dan rentannya tubuh, capeknya raga, Mereka hanya ingin menghidupi keluarganya kawan! Mereka adalah korban dari kelakuan-kelakuan pemimpin kita saat ini! Dan pertanyaannya adalah: dimanakah kalian saat ini, dimanakah hati nurani kalian, Wahai para dewa kampus? Bukankah engkau seorang Agent Of Change, bukankah engkau seorang  Social control, bukankah engkau juga seorang Iron Stock? Apakah semua itu hanya omong kosong belaka?

Tidakkah kalian sadar bahwa sebagian dana yang kalian pakai untuk kuliah adalah uang-uang mereka? Sungguh sakit hati ini ketika para pejabat mahasiswa hanya mementingkan golongannya, lembaga-lembaga yang sudah tidak lagi sesuai dengan fitrahnya dan lebih memilih untuk konsentrasi pada egonya masing-masing, para pemikir ulung yang berkedok idealis, para mahasiswa yang hanya bisa berdandan sebelum kuliah dan menghambur-hamburkan uang untuk sekedar pergi ke mall. Apakah kalian pernah memikirkan nasib mereka? Atau hanya memikirkan saja dan tidak ada gerak nyata? Apakah ini sebuah ironi semata? Hanya kalian yang bisa menjawab! Tanya pada hati kalian masing-masing.

Semoga kalian sadar dan tidak setengah hati dalam berjuang untuk mereka.

Hakikat seorang Mahasiswa adalah belajar dan mengamalkannya dan Hakikatnya kita adalah seorang aktivis sosial, bukan hanya sebagai seorang aktivis kampus

Dari Rakyat Kembali ke Rakyat!! Hidup Rakyat!!!

Penulis : Teguh Santoso, Mahasiswa S1 FIA UB, Jurusan Ilmu Administrasi Publik, bukan anggota pers ataupun anggota research, hanya mahasiswa biasa dan berfikir merdeka

Menjadikan Pabrik Gula sebagai Penggerak Perekonomian Daerah

By : Teguh Santoso

Majunya negara dapat dilihat pada sektor perekonomian dan perekonomian negara akan membawa pengaruh ke sektor lain dengan sendirinya. Setiap daerah di Indonesia memiliki corak pertumbuhan ekonomi yang berbeda dengan daerah lain. Oleh sebab itu, perencanaan pembangunan ekonomi pada suatu daerah pertama-tama haruslah mengenali karakter ekonomi, sosial, dan fisik daerah itu sendiri, termasuk interaksinya dengan daerah lain. Dengan demikian tidak ada strategi pembangunan ekonomi daerah yang dapat berlaku untuk semua daerah. Namun di sisi lain, dalam menyusun strategi pembangunan ekonomi daerah, baik jangka pendek maupun jangka panjang, pemahaman mengenai teori pertumbuhan ekonomi wilayah, yang dirangkum dari kajian terhadap pola-pola pertumbuhan ekonomi dari berbagai wilayah, merupakan salah satu faktor yang cukup menentukan kualitas rencana pembangunan ekonomi daerah. Dengan  pembangunan ekonomi daerah yang terencana, pembayar pajak, dan penanam modal juga dapat mengupayakan peningkatan ekonomi. Keberadaan pabrik-pabrik, hotel, mall, dan tempat pariwisata misalnya, akan membuat indeks perekonomian pada daerah tersebut yang semakin meningkat. Dengan peningkatan efisiensi pola kerja pemerintahan dalam pembangunan, sebagai bagian dari perencanaan pembangunan, pengusaha dapat mengantisipasi pajak dan retribusi agar tidak naik, sehingga tersedia lebih banyak modal bagi pembangunan ekonomi daerah pada tahun-tahun kedepan. Faktor-faktor penentu pertumbuhan ekonomi dapat berasal dari dalam wilayah maupun dari luar wilayah. Globalisasi adalah faktor luar yang dapat menyebabkan merosotnya kegiatan ekonomi di suatu wilayah. Sebagai contoh, karena kebijakan AFTA, maka di pasaran dapat terjadi kelebihan stok produk-produk baik kebutuhan pokok sampai dengan kebutuhan-kebutuhan pelengkap lain. Akibat impor dalam jumlah besar dari negara ASEAN yang bisa merusak sistem dan harga pasar lokal. Dalam perekonomian terdapat dua sisi yang saling berkesinambungan. Satu sisi terdapat usaha besar yang dilaksanakan oleh industri berat dan disisi lain dikembangkan usaha kecil. Kesinambungan antara industri berat dan usaha kecil ini dapat dijadikan sebagai sebuah refleksi strategi perekonomian di Indonesia.

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) adalah salah satu bagian dalam sisi industri besar. Kehadiran BUMN diharapkan mampu mewujudkan kemajuan perekonomian yang kemudian menular pada bidang lain, termasuk usaha kecil. Peran usaha kecil sebenarnya cukup penting untuk penciptaan lapangan kerja dan penyerap tenaga kerja. Melihat UU No. 19 Tahun 2003 tentang BUMN yang disebutkan bahwa salah satu peran BUMN adalah turut membantu pengembangan usaha kecil. BUMN juga memiliki peran penting untuk mengurangi pengangguran. Sinergisitas antara BUMN dengan usaha kecil akan menjadi solusi pengentasan masalah ketenagakerjaan yang kini terjadi. Sudah sewajarnya BUMN berkontribusi sesuai dengan amanat negara dan harapan rakyat untuk menggerakan perekonomian dan menaikkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Disini, keberadaan pabrik gula yang mana digerakkan oleh PT. Perkebunan Nusantara X (Persero) dan merupakan salah satu BUMN di Indonesia yang salah satunya bergerak di Jawa Timur, adalah salah satu faktor penting penggerak peningkatan perekonomian daerah. Kenapa demikian?. Karena, dengan keberadaan pabrik gula di daerah-daerah penting sekali membantu meningkatkan dan menggerakkan perekonomian di suatu daerah. Tidak hanya dalam lingkup pajak dan retribusi yang akan didapat oleh pemerintah daerah. Akan tetapi, PTPNX juga menyalurkan pinjaman pada sektor usaha kecil menengah (UKM). Langkah ini bernilai positif untuk ketersediaan kesempatan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Dan dengan adanya pabrik gula banyak masyarakat sekitar yang berprofesi sebagai seorang petani (khususnya petani tebu) akan mendapatkan peningkatan pendapatan pada dirinya yang tentunya bisa meningkatan taraf kesejahteraan hidup mereka.

Dengan adanya pabrik gula, para petani akan mendapatkan tempat pengumpulan hasil panenya yang akan menambahkan pendapatan pada dirinya. Disini pabrik gula sangat bisa memberdayakan petani karena dengan program-program yang sudah dijalankan yaitu tentang Program Kemitraan dan bina Lingkungan (PKBL) di sekitar lokasi pabrik gula dapat meningkatkan pengembangan sumber daya manusia para petani di sekitar lokasi. Pelatihan kerja yang rutin dilaksanakan, seperti pendidikan penjenjangan jabatan dan pendidikan reguler yang diselenggarakan serta in-house training. Jadi, pemahaman-pemahaman petani mengenai tanaman tebu dan gula bisa berkembang baik mulai proses bercocok tanam sampai, hama-hama tanaman tebu, dengan proses produksi tebu. Dan dengan adanya pabrik gula, pabrik gula bisa disebut sebagai sebuah lapangan kerja baru untuk masyarakat sekitar yang tidak berprofesi sebagai seorang petani dan belum memiliki pekerjaan. Karena, Masyarakat sekitar perkebunan baik yang memiliki lahan maupun yang tidak punya lahan bisa dipekerjakan tanpa harus memiliki kemampuan khusus. Strategi seperti ini terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan dan inilah yang disebut model ekonomi kerakyatan. Model ini dinilai bisa dijadikan solusi mengatasi kemiskinan dan pengangguran dan mendorong peningkatan siklus jual-beli yang ada di daerah tersebut. Dengan adanya pabrik gula, juga turut mendorong pasar dadakan di sekitar daerah lokasi. Baik yang ada didalam lokasi yang kemudian bisa disebut sebagai kantin pabrik untuk para karyawan sampai dengan para penjual aneka makanan yang berada di sekitar lokasi pabrik gula. Selain itu, langkah cerdas juga harus dilakukan PTPN X untuk mengatasi angkatan kerja yang pensiun, yakni dengan memberikan pembekalan keterampilan berwirausaha. Dengan harapan agar para pensiunan bisa membuka usaha kecil setelah pensiun nanti. Usaha mikro yang baru terbentuk ini tentu saja akan menyerap tenaga kerja. Istilah yang tepat disematkan untuk strategi pemberdayaan ini adalah gugur satu tumbuh seribu.

PTPN X dengan program bina lingkungannya yang mana bisa memberikan pemahaman bahwa kawasan pabrik merupakan pembentuk kualitas lingkungan yang penting. Pelestarian kawasan pabrik berkaitan dengan berbagai aspek ekonomi lokal seperti keuangan daerah, permukiman, perdagangan kecil, dan pariwisata dengan menciptakan pekerjaan yang dapat signifikan. Kegiatan ini memberikan kontribusi terhadap kualitas hidup, meningkatkan citra masyarakat dan menarik kegiatan ekonomi yang menghasilkan pendapatan bagi penduduk. Pelestarian kawasan pabrik memberikan perlindungan kepada warisan budaya dan membuat masyarakat memiliki tempat yang menyenangkan untuk hidup. Investor dan developer umumnya menilai kekuatan wilayah melalui kualitas dan karakter dari wilayahnya, salah satunya adalah terpeliharanya kawasan pabrik.

Selain itu, pabrik gula juga turut membangun daerah melalui PKBL yang mana tersalurkan melalui sarana umum. Dimana sarana umum merupakan penarik kegiatan bisnis yang penting. Untuk melihat dan mengukur tingkat kenyamanan hidup pada suatu wilayah dapat dilihat dari ketersediaan sarana umum di wilayah tersebut. Sarana umum merupakan kerangka utama dari pembangunan ekonomi dan sarana umum ini sangat penting bagi aktivitas masyarakat. Sarana umum yang paling dasar adalah jalan, penampungan dan pengolahan sampah dan limbah, sarana pendidikan seperti sekolah, taman bermain, Bank Perkreditan Rakyat (BPR), Ruang Terbuka Hijau (RTH), sarana ibadah, dan masih banyak fasilitas lainnya yang berhubungan dengan kegiatan sehari-hari masyarakat.

Beragam upaya penanganan sebagai andil PTPN X telah dilakukan sejak lama. Meskipun harus diakui lowongan yang disediakan tidak cukup untuk mengakomodasi semua dari angkatan kerja yang ada. Seperti menyadari hal ini, PTPN X menjalankan strategi penciptaan lapangan kerja yang lain agar tetap kontributif dalam penanganan masalah tenaga kerja. Deretan kontribusi PTPN X diatas telah menjelaskan bahwa PTPN X merupakan perusahaan yang berpartisipasi aktif dalam pembangunan ekonomi. Tapi tak dipungkiri masih ada celah potensi yang perlu ditindaklanjuti dan PTPN X ditantang untuk menyelesaikannya. Tujuannya untuk menciptakan lingkungan strategis, sehingga PTPN X pun dapat berjalan sinergis menuju perusahaan agribisnis yang tangguh dan berkarakter global dan dengan demikian, program PTPN X yang menerapkan strategi EDO (efisiensi, divesifikasi, dan optimalisasi) untuk mencapai kinerja akan berjalan optimal.

%d bloggers like this: