Pengembangan Pabrik gula berbasis “EV-Cation” (Education and Vacation) sebagai arena Belajar dan wisata guna pendekatan diri kepada masyarakat Indonesia

By: Teguh Santoso

Pendahuluan

Sebagaimana kita tahu, Gula adalah salah satu kebutuhan pokok yang tidak pernah lepas dari masyarakat Indonesia. Bahkan sejak zaman nenek moyang, banyak yang sudah mengkonsumsi gula walaupun dulu tidak berupa padat (Kristal Sukrosa) selayaknya sekarang ini dan lebih pada langsung pada tanamannya dimana salah satunya  dihasilkan dari tanaman Tebu. Perlu diketahui, gula yang mana dalam hal ini dikelola oleh PTPNX merupakan salah satu income komoditi perdagangan utama yang lumayan besar. Berdasarkan referensi yang saya baca di jejaring dunia maya wikipedia.org yang mana disebutkan bahwa di Indonesia sendiri, puncak kegemilangan perkebunan tebu dicapai pada tahun-tahun awal 1930-an, dengan 179 pabrik pengolahan dan produksi tiga juta ton gula per tahun. Penurunan harga gula akibat krisis ekonomi merontokkan industri ini dan pada akhir dekade hanya tersisa 35 pabrik dengan produksi 500 ribu ton gula per tahun. Situasi agak pulih menjelang Perang Pasifik, dengan 93 pabrik dan prduksi 1,5 juta ton. Seusai Perang Dunia II, tersisa 30 pabrik aktif. Tahun 1950-an menyaksikan aktivitas baru sehingga Indonesia menjadi eksportir netto. Pada tahun 1957 semua pabrik gula dinasionalisasi dan pemerintah sangat meregulasi industri ini. Sejak 1967 hingga sekarang Indonesia kembali menjadi importir gula. Macetnya riset pergulaan, pabrik-pabrik gula di Jawa yang ketinggalan teknologi, tingginya tingkat konsumsi (termasuk untuk industri minuman ringan), serta kurangnya investor untuk pembukaan lahan tebu di luar Jawa menjadi penyebab sulitnya swasembada gula. Pada tahun 2002 dicanangkan target Swasembada Gula 2007. Untuk mendukungnya dibentuk Dewan Gula Indonesia pada tahun 2003 (berdasarkan Kepres RI no. 63/2003 tentang Dewan Gula Indonesia). Dimana kemudian target ini diundur terus-menerus.

Pembahasan

Potensi Bisnis

Di era sekarang, pengelola sebuah tempat wisata harus berlomba-lomba menciptakan lahan wisatanya sekreatif mungkin kepada masyarakat luas, jika tidak maka akan tergerus dengan sendirinya. Disini saya memberikan usul/saran jika nantinya PTPN X ingin mengembangkan wisata sejarah pabrik gulanya. Pada dasarnya sebuah tempat wisata memiliki nilai Plus dimata masyarakat ketika tempat wisata/wahana itu bisa membuat semua mata terpana atau bisa dibilang “wah”, baik ketika melihat iklannya maupun ketika mengunjunginya. Disini saya menawarkan sebuah konsep yang mana dalam hal ini saya namakan konsep “EV-Cation” (Education and Vacation) atau semacam museum modern. Disini pengunjung akan disuguhkan dengan diorama-diorama yang terkonsep dan full suara audio yang menjadikan seolah-olah pengunjung masuk pada era itu mulai sejarah gula sampai dengan proses pembuatan gula dari era-tradisional sampai dengan era-modern. Tidak hanya diorama, akan tetapi pengunjung juga bisa disuguhkan dengan wisata pengelolaan gula, dimana pengunjung bisa juga ikut dalam proses pembuatan gula dari awal sampai akhir. Disini juga bisa disediakan tempat singgah dan semacam rumah pintar/rumah baca yang isi-isinya didominasi dengan pernak-pernik Gula, tebu, aren, dan bisa juga memanfaatkan limbah pabrik sebagai bahan utama. Disamping itu, PTPN X juga bisa melibatkan masyarakat sekitar dengan menyediakan gedung creative corner. Kebutuhan adanya gedung pusat kreativitas warga menjadi krusial. Fasilitas berupa ruang pameran, ruang konferensi, meeting room, maupun ruang-ruang yang bisa disewakan untuk menjual produk-produk kreativitas sangatlah dibutuhkan dan membantu akselerasi ekonomi kreatif di daerah itu juga dan ini bisa menaikkan ratting dari tempat wisata ini. Yang harus juga menjadi kredit poin di tempat ini adalah meramahi lingkungan dengan green policy. Mengapa demikian?. Karena, Bumi semakin panas. Salah satu penyebab terbesar adalah panas yang dihasilkan bangunan-bangunan di perkotaan. Peraturan kota yang mewajibkan konsep green building harus dihadirkan di tempat wisata ini. Atap datar yang ditanami rumput / bunga-bunga sangat dianjurkan. Saya meyakini bahwa kebanyakan orang stress ketika berada pada lingkungan yang asri. Maka hawa dari tempat itu bisa menurunkan kadar tekanan yang dihadapi pada seseorang itu. Dengan penanaman pohon itu, akan memperbanyak suplai oksigen yang menyebabkan pengunjung akan merasa nyaman berada di tempat wisata ini. Dan mekanisme ticketing itu semua bisa diakali dengan tiket terusan atau bisa juga dengan tiket satu paket.

Model Pemasarannya

Model pemasaran yang bisa dilakukan oleh pengelola PTPN X yaitu melalui pemberian voucher gratis berkunjung ke wisata sejarah pabrik gula untuk pembelian gula produk dlm negeri dgn jumlah tertentu, atau bisa juga dengan bantuan media televisi, radio, dunia maya, kerjasama dengan pemprov/pemerintah pusat, dan juga bisa dilakukan dengan mengadakan keragaman festival. Festival adalah perayaan identitas. Semakin banyak festival semakin menunjukkan tempat wisata itu hangat dalam kebersamaan. Jika mungkin tiap bulan di PTPN X ada festival berskala nasional sampai dengan berskala internasional. Orang akan banyak mendatangi tempat tersebut karena sejarahnya, keunikan fisik/arsitektur tempatnya, dan juga karena acara festival-festivalnya. Seperti halnya pada Rio Carnaval di Brazil dan Flower Carnaval di Pasadena yang mana keduanya berkelas dunia. Yang jadi perhatian dan tak kalah pentingnya adalah masalah “kebersihan”. Agar paradigma negative yang berkembang di masyarakat saat ini tentang kotor dan bau tidak enaknya sebuah pabrik gula bisa berubah