Menjadikan Pabrik Gula sebagai Penggerak Perekonomian Daerah

By : Teguh Santoso

Majunya negara dapat dilihat pada sektor perekonomian dan perekonomian negara akan membawa pengaruh ke sektor lain dengan sendirinya. Setiap daerah di Indonesia memiliki corak pertumbuhan ekonomi yang berbeda dengan daerah lain. Oleh sebab itu, perencanaan pembangunan ekonomi pada suatu daerah pertama-tama haruslah mengenali karakter ekonomi, sosial, dan fisik daerah itu sendiri, termasuk interaksinya dengan daerah lain. Dengan demikian tidak ada strategi pembangunan ekonomi daerah yang dapat berlaku untuk semua daerah. Namun di sisi lain, dalam menyusun strategi pembangunan ekonomi daerah, baik jangka pendek maupun jangka panjang, pemahaman mengenai teori pertumbuhan ekonomi wilayah, yang dirangkum dari kajian terhadap pola-pola pertumbuhan ekonomi dari berbagai wilayah, merupakan salah satu faktor yang cukup menentukan kualitas rencana pembangunan ekonomi daerah. Dengan  pembangunan ekonomi daerah yang terencana, pembayar pajak, dan penanam modal juga dapat mengupayakan peningkatan ekonomi. Keberadaan pabrik-pabrik, hotel, mall, dan tempat pariwisata misalnya, akan membuat indeks perekonomian pada daerah tersebut yang semakin meningkat. Dengan peningkatan efisiensi pola kerja pemerintahan dalam pembangunan, sebagai bagian dari perencanaan pembangunan, pengusaha dapat mengantisipasi pajak dan retribusi agar tidak naik, sehingga tersedia lebih banyak modal bagi pembangunan ekonomi daerah pada tahun-tahun kedepan. Faktor-faktor penentu pertumbuhan ekonomi dapat berasal dari dalam wilayah maupun dari luar wilayah. Globalisasi adalah faktor luar yang dapat menyebabkan merosotnya kegiatan ekonomi di suatu wilayah. Sebagai contoh, karena kebijakan AFTA, maka di pasaran dapat terjadi kelebihan stok produk-produk baik kebutuhan pokok sampai dengan kebutuhan-kebutuhan pelengkap lain. Akibat impor dalam jumlah besar dari negara ASEAN yang bisa merusak sistem dan harga pasar lokal. Dalam perekonomian terdapat dua sisi yang saling berkesinambungan. Satu sisi terdapat usaha besar yang dilaksanakan oleh industri berat dan disisi lain dikembangkan usaha kecil. Kesinambungan antara industri berat dan usaha kecil ini dapat dijadikan sebagai sebuah refleksi strategi perekonomian di Indonesia.

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) adalah salah satu bagian dalam sisi industri besar. Kehadiran BUMN diharapkan mampu mewujudkan kemajuan perekonomian yang kemudian menular pada bidang lain, termasuk usaha kecil. Peran usaha kecil sebenarnya cukup penting untuk penciptaan lapangan kerja dan penyerap tenaga kerja. Melihat UU No. 19 Tahun 2003 tentang BUMN yang disebutkan bahwa salah satu peran BUMN adalah turut membantu pengembangan usaha kecil. BUMN juga memiliki peran penting untuk mengurangi pengangguran. Sinergisitas antara BUMN dengan usaha kecil akan menjadi solusi pengentasan masalah ketenagakerjaan yang kini terjadi. Sudah sewajarnya BUMN berkontribusi sesuai dengan amanat negara dan harapan rakyat untuk menggerakan perekonomian dan menaikkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Disini, keberadaan pabrik gula yang mana digerakkan oleh PT. Perkebunan Nusantara X (Persero) dan merupakan salah satu BUMN di Indonesia yang salah satunya bergerak di Jawa Timur, adalah salah satu faktor penting penggerak peningkatan perekonomian daerah. Kenapa demikian?. Karena, dengan keberadaan pabrik gula di daerah-daerah penting sekali membantu meningkatkan dan menggerakkan perekonomian di suatu daerah. Tidak hanya dalam lingkup pajak dan retribusi yang akan didapat oleh pemerintah daerah. Akan tetapi, PTPNX juga menyalurkan pinjaman pada sektor usaha kecil menengah (UKM). Langkah ini bernilai positif untuk ketersediaan kesempatan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Dan dengan adanya pabrik gula banyak masyarakat sekitar yang berprofesi sebagai seorang petani (khususnya petani tebu) akan mendapatkan peningkatan pendapatan pada dirinya yang tentunya bisa meningkatan taraf kesejahteraan hidup mereka.

Dengan adanya pabrik gula, para petani akan mendapatkan tempat pengumpulan hasil panenya yang akan menambahkan pendapatan pada dirinya. Disini pabrik gula sangat bisa memberdayakan petani karena dengan program-program yang sudah dijalankan yaitu tentang Program Kemitraan dan bina Lingkungan (PKBL) di sekitar lokasi pabrik gula dapat meningkatkan pengembangan sumber daya manusia para petani di sekitar lokasi. Pelatihan kerja yang rutin dilaksanakan, seperti pendidikan penjenjangan jabatan dan pendidikan reguler yang diselenggarakan serta in-house training. Jadi, pemahaman-pemahaman petani mengenai tanaman tebu dan gula bisa berkembang baik mulai proses bercocok tanam sampai, hama-hama tanaman tebu, dengan proses produksi tebu. Dan dengan adanya pabrik gula, pabrik gula bisa disebut sebagai sebuah lapangan kerja baru untuk masyarakat sekitar yang tidak berprofesi sebagai seorang petani dan belum memiliki pekerjaan. Karena, Masyarakat sekitar perkebunan baik yang memiliki lahan maupun yang tidak punya lahan bisa dipekerjakan tanpa harus memiliki kemampuan khusus. Strategi seperti ini terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan dan inilah yang disebut model ekonomi kerakyatan. Model ini dinilai bisa dijadikan solusi mengatasi kemiskinan dan pengangguran dan mendorong peningkatan siklus jual-beli yang ada di daerah tersebut. Dengan adanya pabrik gula, juga turut mendorong pasar dadakan di sekitar daerah lokasi. Baik yang ada didalam lokasi yang kemudian bisa disebut sebagai kantin pabrik untuk para karyawan sampai dengan para penjual aneka makanan yang berada di sekitar lokasi pabrik gula. Selain itu, langkah cerdas juga harus dilakukan PTPN X untuk mengatasi angkatan kerja yang pensiun, yakni dengan memberikan pembekalan keterampilan berwirausaha. Dengan harapan agar para pensiunan bisa membuka usaha kecil setelah pensiun nanti. Usaha mikro yang baru terbentuk ini tentu saja akan menyerap tenaga kerja. Istilah yang tepat disematkan untuk strategi pemberdayaan ini adalah gugur satu tumbuh seribu.

PTPN X dengan program bina lingkungannya yang mana bisa memberikan pemahaman bahwa kawasan pabrik merupakan pembentuk kualitas lingkungan yang penting. Pelestarian kawasan pabrik berkaitan dengan berbagai aspek ekonomi lokal seperti keuangan daerah, permukiman, perdagangan kecil, dan pariwisata dengan menciptakan pekerjaan yang dapat signifikan. Kegiatan ini memberikan kontribusi terhadap kualitas hidup, meningkatkan citra masyarakat dan menarik kegiatan ekonomi yang menghasilkan pendapatan bagi penduduk. Pelestarian kawasan pabrik memberikan perlindungan kepada warisan budaya dan membuat masyarakat memiliki tempat yang menyenangkan untuk hidup. Investor dan developer umumnya menilai kekuatan wilayah melalui kualitas dan karakter dari wilayahnya, salah satunya adalah terpeliharanya kawasan pabrik.

Selain itu, pabrik gula juga turut membangun daerah melalui PKBL yang mana tersalurkan melalui sarana umum. Dimana sarana umum merupakan penarik kegiatan bisnis yang penting. Untuk melihat dan mengukur tingkat kenyamanan hidup pada suatu wilayah dapat dilihat dari ketersediaan sarana umum di wilayah tersebut. Sarana umum merupakan kerangka utama dari pembangunan ekonomi dan sarana umum ini sangat penting bagi aktivitas masyarakat. Sarana umum yang paling dasar adalah jalan, penampungan dan pengolahan sampah dan limbah, sarana pendidikan seperti sekolah, taman bermain, Bank Perkreditan Rakyat (BPR), Ruang Terbuka Hijau (RTH), sarana ibadah, dan masih banyak fasilitas lainnya yang berhubungan dengan kegiatan sehari-hari masyarakat.

Beragam upaya penanganan sebagai andil PTPN X telah dilakukan sejak lama. Meskipun harus diakui lowongan yang disediakan tidak cukup untuk mengakomodasi semua dari angkatan kerja yang ada. Seperti menyadari hal ini, PTPN X menjalankan strategi penciptaan lapangan kerja yang lain agar tetap kontributif dalam penanganan masalah tenaga kerja. Deretan kontribusi PTPN X diatas telah menjelaskan bahwa PTPN X merupakan perusahaan yang berpartisipasi aktif dalam pembangunan ekonomi. Tapi tak dipungkiri masih ada celah potensi yang perlu ditindaklanjuti dan PTPN X ditantang untuk menyelesaikannya. Tujuannya untuk menciptakan lingkungan strategis, sehingga PTPN X pun dapat berjalan sinergis menuju perusahaan agribisnis yang tangguh dan berkarakter global dan dengan demikian, program PTPN X yang menerapkan strategi EDO (efisiensi, divesifikasi, dan optimalisasi) untuk mencapai kinerja akan berjalan optimal.