“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi suatu kaum, dijadikan pemimpin-pemimpin mereka orang-orang yang bijaksana dan dijadikan ulama-ulama mereka menangani hukum dan peradilan. Juga, Allah jadikan harta benda di tangan orang-orang yang dermawan. Namun, jika Allah menghendaki keburukan bagi suatu kaum, Dia menjadikan pemimpin-pemimpin mereka orang-orang yang berakhlak rendah. Dijadikan-Nya orang-orang dungu yang menangani hukum dan peadilan, dan harta berada di tangan orang-orang kikir.”  (HR Addailami)

 

Ketika Allah SWT menghendaki kebaikan bagi suatu kaum, Dia akan menjadikan para pemimpimpin di suatu negeri orang-orang yang bijaksana dan dijadikan ulama-ulama yang menangani hukum serta dijadikan harta benda di tangan orang-orang yang dermawan. Contoh yang sangat jelas untuk keadaan seperti ini adalah ketika pada zaman Rasulullah saw., khalifah yang empat, dan kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz. Pada masa kekhalifahan tesebut di atas Islam benar-benar mencapai kejayaan. Pemimpin mengendalikan pemerintahan dengan keadilan; masyarakat hidup aman dan bahagia, kecuali orang-orang yang mengingkari petunjuk dari Allah dan Rasul-Nya, mereka menjadi musuh kaum muslimin, yang pada waktu itu mereka mengalami kekalahan. Mereka tunduk di bawah kekuasaan kekhalifahan Islam. Apabila mereka mau hidup berdampingan dan saling menghormati, harta dan jiwanya dilindungi oleh kaum muslimin.

Sekarang keadaan sudah berbalik. Para penguasa di sebagian besar penduduk negeri adalah orang-orang yang jauh dari sifat keadilan. Mereka memiliki sifat mementingkan diri sendiri dan golongannya. Mereka rakus dengan harta benda. Mereka tidak akan berhenti makan, meskipun sudah kenyang. Maka, para pegawai di sekeliling dan di bawahnya adalah orang-orang kepercayaannya, yang tidak lain mereka juga memiliki karakter yang sama: mementingkan diri sendiri dan golongannya.

Mereka mengambil uang rakyat dengan cara, baik ilegal maupun legal sehingga sulit diketahui umum. Mereka bekerja sama dan memanfaatkan kelompok penguasa ekonomi untuk meraup kekayaan yang sebanyak-banyaknya. Bahkan, mereka ikut menjadi kelompok pemegang ekonomi dengan mendirikan bisnis seluas-luasnya. Jika berpidato selalu memberikan petunjuk, tetapi sesungguhnya hatinya busuk. Orang-orang seperti itu tidak condong pada nilai-nilai kebenaran, apalagi terhadap penegakkan hukum. Mereka para pemimpin dan pengusa negeri yang jelek dan lebih busuk dari bangkai. “Akan datang sesudahku penguasa-penguasa yang memerintahmu. Di atas mimbar mereka memberi petunjuk dan ajaran dengan bijaksana, tetapi bila telah turun mimbar mereka melakukan tipu daya dan pencurian (korupsi). Hati mereka lebih busuk dari bangkai.” (HR Ath-Thabarani).

Para ulama yang notabene memegang nilai-nilai kebenaran justru yang diadili, bukan sebaliknya. Para ulama harus berjuang seperti memegang bara api. Posisi mereka tersisih. Inilah sebabnya barangkali mengapa para tokoh agama lebih condong pada penyampaian dakwah yang ringan-ringan dan aman-aman saja. Kalau demikian, bagaimana umat akan mengerti ajaran Islam sesungguhnya, jika para tokohnya saja enggan memberi tahu yang sebenarnya. Apakah semua orang harus masuk pesantren? Bagaimana dengan orang-orang yang karena keadaan tidak bisa mengenyam pendidikan agama? Mereka itu adalah justru mayoritas. Mereka perlu tahu Islam yang sesungguhnya. Bukan Islam yang hanya menampilkan wajah lemah lembut, tawadu, zuhud, tetapi juga Islam yang berani menegakkan kebenaran; Islam yang berani memberantas kemaksiatan. Karena kebodohan inilah mayoritas umat lebih takut dan mengikuti Amerika Serikat bahwa mereka yang militan dengan syaiat Islam adalah teoris.

Orang-orang kaya pemegang harta juga orang-orang yang kikir. Mereka sangat takut terhadap kemiskinan. Mereka enggan mengeluarkan zakat. Mereka enggan menyisihkan hartanya untuk menolong saudaranya sesama muslim yang sangat membutuhkan. Kalaupun mereka mau, hanya sedikit sekali. Harta yang mereka punyai lebih penting digunakan untuk mempertahankan dirinya. Mereka lebih suka memberikan sebagian hartanya kepada para pengusa ketimbang rakyat jelata. Mereka pinjam uang rakyat di bank-bank. Atas kerja sama mereka dengan para penguasa, usaha mereka tersebar di mana-mana. Ketika krisis, mereka lari. Meskipun lari, pengusa tetap mengampuninya karena mereka ikut menikmati hasilnya. Sementara, rakyat jelata harus berjuang mati-matian untuk mempertahankan hidup ini. Mereka mencari nafkah dengan susah payah. Jika terjadi kesalahan sedikit saja, mereka pasti tidak luput dari cengkeraman pihak berwajib. Dengan keadaan seperti ini wajar jika manusia sangat rakus terhadap harta. Sehingga, manusia pada umumnya mengumpulkan harta dengan tidak memikirkan halal dan haram. “Akan datang bagi manusia suatu zaman yang orang tidak peduli apakah harta yang diperolehnya halal atau haram.” (HR Bukhari).

Pelajaran telah kita dapatkan. Umat Islam harus mengambil pelajaran berharga tersebut untuk menentukan langkah hari esok. Umat Islam harus bangkit. Untuk bangkit perlu kekuatan; agar kuat perlu persatuan. Kita harus sadar dan bangkit untuk mengubah keadaan ini menjadi lebih baik. Kita harus mengambil langkah. Kita seharusnya mengambil langkah-langkah untuk mengubah keterpurukan ini menjadi bangkit dan berjaya kembali. Langkah awal yang mungkin dapat dipraktikan adalah sebagai berikut. Pertama, kita pilih para pemimpin yang adil dan mementingkan kepentingan rakyat. Jangan memilih pemimpin yang sudah diketahui dan terbukti tidak mampu mengadakan perubahan. Pemimpin dengan kualifikasi yang mampu mengadakan perubahan adalah pemimpin yang memiliki visi dan misi jauh ke depan dan yang tidak takut dengan celaan manusia, tetapi yang takut dengan celaan Tuhan. Pemimpin yang demikian akan menempatkan orang-orang yang jujur dan adil untuk menegakkan keadilan. Hingga jajaran ke bawah, para pegawainya akan takut berbuat curang.

Kedua, kita berantas kemaksiatan, kemungkaran, dan kezaliman. Pemimpin dengan kualifikasi seperti tesebut di atas tidak takut memberantas kemaksiatan, memerangi kemungkaran dan kezaliman. Mereka tidak membutuhkan suapan dari para pengusaha kemaksiatan. Dengan demikian, umat Islam tidak perlu lagi mendirikan laskar-laskar, seperti FPI, GPI, dan sebagainya. Kita cukup percaya kepada penegak hukum yang sudah bertekad kuat memberantas kemaksiatan. Agar progam ini dapat bejalan, perlu gerakan bersama, karena lawan yang kita hadapi sebagian besar adalah kelompok-kelompok yang menguasai ekonomi. Tanpa didukung dengan energi yang besar, sulit mempraktikan pekejaan besar ini.

Ketiga, meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Dengan iman dan takwa itulah kita mendapat pertolongan dari Allah. Dengan pertolongan ini, segalanya menjadi mudah. Apa yang tadinya secara akal dan logika sangat sulit untuk dipecahkan, pasti berubah menjadi sangat mudah. Jalan-jalan untuk mencapai rezeki diluaskan dan dimudahkan. Jalan-jalan keluar dari keterpurukan ini terbuka lebar. Berusaha adalah kewajiban, sedangkan cepat atau lambat usaha itu dapat diwujudkan, Allahlah yang menentukan. Wallahu a’lam. (Abu Annisa)
Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia